Harga Minyak Nilam Naik
Harga minyak nilam (Pogostemon cablin) di sentra produksi Aceh Jaya dan Kabupaten Aceh Barat dalam sepekan terakhir dilaporkan naik tajam dari Rp550.000 menjadi Rp650.000/kg.
Ayah Ramli, salah seorang pedagang hasil bumi dan komoditi unggulan di Banda Aceh, Jumat (11/7), menyebutkan lonjakan harga minyak nilam mulai terjadi sejak awal pekan pertama Juli 2008 karena adanya peningkatan permintaan pasar di provinsi tetangga, Sumatera Utara (Sumut).
Nilam merupakan salah satu jenis tumbuhan yang daunnya berbau harum, minyaknya diperoleh dengan cara penyulingan dan kini banyak dibudidayakan masyarakat di wilayah pesisir pantai barat dan selatan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), terutama di Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.
“Beberapa tahun lalu, tanaman nilam juga pernah dikembangkan petani di dataran tinggi Aceh Tengah dan Bener Meriah, namun akhir-akhir ini sudah tidak ditemukan lagi,” katanya.
Daerah lain di NAD yang pernah keluar minyak nilam di petani di Aceh Besar, seperti dari Jantho, Lamteuba, Cot Jeumpa dan Lhoong, namun kualitas minyak dari daerah tersebut lebih rendah sehingga harganya lebih murah dibandingkan nilam dari pesisir pantai barat dan selatan Aceh.
Menurut Ayah Ramli, meskipun harganya cukup tinggi, namun nilam masih merupakan tanaman sampingan bagi masyarakat di pesisir barat dan selatan NAD, sehingga luas areal dan rata-rata produksi minyak nilam tidak terdata. Harga minyak nilam tertinggi terjadi tahun 2000 mencapai Rp1,5 juta/kg, sedangkan terendah Rp250.000/kg.
Pada saat hingga tinggi, luas areal tanaman nilam di pesisir barat dan selatan NAD diperkirakan tidak kurang dari 100.000 hektar, namun pada saat harga “lesu” menurun drastis. Petani mengembangkan tanaman nilam hanya di saat harga membaik.
Berfluktuasinya harga minyak nilam di sentra produksi Aceh diduga akibat “permainan” oknum pedagang besar di Medan, Sumatera Utara (Sumut), sehingga tidak banyak petani nilam di daerah ini yang dapat menikmati harga tinggi, kecuali bagi sebagian mereka yang memiliki banyak sisa stok lama.
“Minyak nilam yang ada saat ini merupakan stok lama yang sengaja disimpan masyarakat menunggu harganya naik, sehingga sebagian mulai dilepas ke pasaran karena meningkatnya kebutuhan bagi anak-anaknya menjelang memasuki tahun ajaran baru sekolah,” demikian Ayah Ramli. (kpl/rif)/ Kapanlagi.com
Filed under: ARTIKEL